Bahasa Suryani, Bahasa Kuno yang Sarat dengan Unsur Supranatural


Bahasa Suryani merupakan bahasa ibu dari sekte Asiria yang tersebar di seluruh Irak dan Suriyah. Bahasa ini tergolong dari salah satu bahasa Aram Timur dari sekian banyak bahasa dalam rumpun Semit. Awal mula bahasa ini banyak digunakan setelah terjadinya banjir bandang Nabi Nuh AS.
Seiring berubahnya masa, bahasa Suryani mengalami pasang surut dalam perkembangannya. Hal ini dipengaruhi budaya dan kekuasaan yang silih berganti. Awal mula, Bahasa ini berkembang ketika kerajaan Namrud berkuasa dan semakin menyusut ketika kerajaan Persia mulai berdiri dan berkembang.[1]
Tidak hanya di sekitar Timur Tengah saja, bahasa Suryani juga banyak digunakan di wilayah Romawi. Banyak di antara para filusuf seperti Plato yang menggunakan bahasa Suryani dalam menulis karyanya.
Dahulu keberadaan bahasa Suryani menjadi pemersatu kebudayaan bangsa Irak dan Suriah, namun pada masa-masa kejayaan Islam di bawah dinasti Umayah hingga dinasti Mamluk bahasa Arab lebih banyak mendominasi di wilayah Irak dan Suriah. Oleh karena itu, banyak nama tempat wilayah di timur tengah yang menggunakan kata serapan dari bahasa Suryani seperti nama gunung 'Sinai' yang berarti 'Bebatuan yang Diberkahi'.[2]  
Selain menjadi bahasa percakapan dari kalangan manusia, bahasa Suryani juga merupakan bahasa para arwah dan para wali. Mereka lebih banyak menggunakannya, karena bahasanya yang ringkas dan mengandung banyak makna. Para Wali Allah memiliki majelis yang disebut juga dengan Ad-Diwan yang biasaya berkumpul di gua Hira' tempat wahyu pertama kali turun, di majelis tersebut juga sering berdatangan para malaikat dan ruh yang kesemuanya menggunakan bahasa Suryani dalam bercakap dan bermusyawarah. Kecuali jika Nabi Muhammad SAW hadir, maka mereka semua menggunakan bahasa Arab untuk tata krama dan rasa hormat kepada Beliau SAW.[3]
Syaikh Izzudin bin Abdussalam menyebutkan dalam kitab tafsirnya, bahwa di setiap taman-taman di surga Firdaus banyak bertuliskan tulisan dengan berbahasa Arab, Romawi, dan Suryani.[4] Oleh sebab keutamaan itu, bahasa Suryani mengandung banyak unsur supranatural. Banyak di antara amalan ilmu Hikmah yang menggunakan bahasa Suryani baik dilakukan dengan cara diucapkan maupun ditulis yang bersangkutan dengan unsur metafisika maupun lahiriyah. Seperti yang tercantum dalam syair Thariqah Sughra dan Tariqah Kubra di dalam kitab Mamba' Usulil Hikmah.
Wallahu a'lam bisshawab...
__________________________

[1] Mustafa Abdullah al-Qastantini, Kasyfud-Dunun, (London: Muasisah Al-Furqon), hal 105

[2] Abu Musa Al-Madani (581 H), Majmu'ul-Mughits, jld 3 hlm 63

[3] Sayid Abdul Aziz Ad-Dabbag, Al-Ibriz, (Beirut: Dar Kutub Al-Ilmiah), hal 285

[4] Izzuddin bin Abdussalam (660 H), Ikhtishor Litafsir Al-Mawardi, (Beirut: Dar Ibnu Hazm), hal 265

Where do you want to donate?

Paypal
Z400744906958
Support our dawah by making a small donation. Click the arrow button above
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama